Dunia Reviu Makanan: Kejujuran atau Kelewat Batas?


Gonjang-ganjing bika ambon lapis serangga dan lapis legit harga jutaan sedang menguasai dunia sosial media. Perang reviu pun terjadi tanpa bisa dihindari. Netijen yang terhormat pun merajalela.


Berangkat dari membaca status seorang teman sesama baker di Facebook, aku tergelitik untuk mencari tahu lebih jauh tentang apa yang terjadi. Mulailah aku berkelana ke TikTok, YouTube, dan Instagram. Termasuk mencari tahu bagaimana kejadian sebenarnya tentang perseteruan pereviu makanan dalam artikel-artikel di dunia maya. Spoiler alert: tulisan ini panjang, kuatkan hatimu.


Reviu Kue Berserangga

Bermula dari seorang pereviu makanan, Shely Che, yang melakukan reviu bika ambon produksi PIK Baking House, dengan pemiliknya yang bernama tenar: Ci Mehong. Dari pembukaan tentang kemasan kue, kemudian berlanjut ke tekstur kue. Shely kemudian memotong kuenya untuk bersiap mencicip.

Tak disangka, dalam live streaming di TikTok itu, Shely menemukan titik hitam yang dicurigainya sebagai serangga. Sempat disangka oleh timnya sebagai noda gosong, Shely menegaskan bahwa itu adalah "sesuatu yang memiliki cabang". Dalam unggahan terakhirnya di versi uncut, Shely benar-benar menunjukkan proses penemuannya. Setelah di-zoom in, tampaklah itu seperti seekor binatang yang bernasib sial, terpanggang bersama bika ambon.

Komentar netijen yang bermunculan pun kemudian berujung pada dapur Ci Mehong yang jorok, dapur yang bagaikan bengkel, dapur yang tidak layak, hingga membanding-bandingkan dengan dapur baker lain. 

Ci Mehong yang memiliki nama asli Tjioe Nofia Handayani ini pun menyangkalnya. Tayangan-tayangan sanggahan muncul dari pihak Ci Mehong. Sayangnya, netijen menilai tanggapan Ci Mehong tampak sombong, tidak mau mengakui kesalahan, dan justru menyalahkan pereviu atau pihak lain yang dianggap sirik—sebagai kaum mendang-mending. Netijen beranggapan akan lebih baik bila Ci Mehong menyampaikan permintaan maaf. Yang ada justru tampilan dengan persona kuat—dan lebih kuat—dari Ci Mehong, bahwa produknya adalah premium, tidak untuk kalangan yang tak bisa membeli, dan tempat produksinya bersih. Titik.

Terlepas dari ego masing-masing, sebuah proses produksi yang telah dirancang sedemikan rupa terkadang tak terhindarkan dari kesalahan. Sialnya, ketidaksempurnaan itu ditemukan oleh seorang pereviu. 


Lapis Legit Jutaan

Satu lagi yang sedang seru dibahas pula. Gara-gara berputar-putar di persoalan kue berserangga itu, aku menemukan reviu untuk lapis legit Ci Mehong yang katanya cukup mahal. Codeblue, yang terkenal suka mereviu dengan kata-katanya yang pedas, mengulas lapis legit Ci Mehong dengan tajam. Hasilnya, kuenya kurang berminyak, kering, overprice, tidak terlalu manis, ukurannya terlalu tipis dan kecil.

Yang membuatku membelalak, tak lama si Codeblue ini mengeluarkan produk lapis legit dengan nama Tokyo Legit, yang harganya nyaris menyentuh sejuta. Banyak para pereviu makanan yang kemudian membeli dan mengulasnya. 

Si kue sejuta ini tebalnya nyaris dua kali dari lapis legit Ci Mehong. Kemasan lebih lux, terlihat lebih berminyak, dan ada bonus canelé, kue berlapis karamel khas Bordeaux, Prancis. Empat buah canelé dibungkus—terbuat dari tepung, mentega, gula, susu, kuning telur, vanili, dan rum—sebagai bonus lapis legit itu.

Ukuran lapis legit milik Codeblue hampir sama dengan Ci Mehong, sekitar 10x10 cm. Dengan ukuran yang sama, produk Ci Mehong dijual mulai dari dua ratus ribu rupiah di varian original. Di dunia maya, para pereviu seolah saling berebut membandingkan, mana yang lebih enak: lapis legit milik Ci Mehong atau Codeblue. 


Baker Patah Hati

Status teman yang kubaca di Facebook menyinggung persoalan cara makan para tukang reviu ini. Indeed, sebagai seorang tukang kue selama dua belas tahun lebih, dan juga mengajarkan cara membuat kue pada orang lain, aku juga ikut patah hati. 

Bika ambon dan lapis legit menduduki peringkat kue yang cukup sulit dibuat. Kebanyakan tukang kue (zaman dulu) tidak tiba-tiba menjelajah dunia persilatan kue di Indonesia dari dua kue ini. Ketika sudah menguasai oven, sudah tahu bagaimana mengolah adonan dengan piawai, biasanya baru mulai mencoba membuat dua macam kue ini. 

Bika ambon tidak mudah dibuat karena harapan diletakkan sangat tinggi agar kue ini bisa bersarang dengan bagus. Bika ambon yang tidak memiliki lubang sarang-sarang yang cantik bisa dikatakan gagal. 

Begitu pula dengan lapis legit. Banyaknya telur yang digunakan, kualitas butter yang dipakai, serta lamanya pembuatan dan teknik yang membutuhkan kesabaran, membuat banyak tukang kue maju mundur membuat kue ini. Lapis demi lapis harus dituangkan. Lapisan sebelumnya harus sudah matang cantik dan padat sebelum menuang adonan untuk lapisan berikutnya.

Ai generated image by Windy Effendy

Agak tidak rela rasanya melihat para tukang reviu memakan dua kue tersebut layaknya makan donat atau roti sobek.  Si bika ambon dipotong besar-besar, dipencet-pencet, dan dimakan dengan suapan besar, rasanya kenikmatannya sudah lenyap. Demikian pula si lapis legit. Digigit langsung dari bongkah besar, rasanya hancur harga diri si lapis legit ini. Biasanya, dari ukuran utuh lapis legit kuiris tipis, kunikmati dengan perlahan, dan kubiarkan setiap kelembutannya menyelinap di ruang cecap. Gigitan para pereviu yang sebegitu besarnya bagaikan menggigit gorengan, membuat hatiku ngilu. 

Mungkin aku hanya terbawa emosi, atau merasa sakit hati sebab aku pernah berada di belakang oven dan mikser. Kelelahan rasanya tak terbayar ketika kue-kue itu dinikmati dengan cara bar-bar. Keindahan rasa dan bentuknya yang diciptakan dengan penuh perasaan, hancur berantakan. 


Sekadar Jujur atau Kelewat Batas?

Perjalanan menyimak dua topik di atas membawaku berkelana ke tayangan reviu-reviu makanan lainnya. Banyak; dan luar biasa. Reviu makanan ini menjadi andalan para penikmat kuliner untuk memilih makanan mana yang enak dan tidak. Pendapat influencer atau bahkan sekadar content creator anyaran yang sering reviu makanan sering menjadi acuan netijen yang budiman untuk memilih dan kemudian mencoba. Tren FOMO pun terjadi lagi. Bila tak segera mencoba yang lagi viral, nanti kamu akan ketinggalan.

Tren mereviu makanan ini juga menjadi marak ketika mukbang mulai banyak bermunculan. Mukbang yang biasa dilakukan oleh YouTuber di Korea Selatan, kini sudah bertebaran di Indonesia. Mukbang sendiri berasal dari dari dua kata dalam bahasa Korea, yakni "muk" (먹), yang berarti "makan," dan "bang" (방), yang berarti "siaran" atau "ruangan."

Setahuku, mukbang di negara asalnya lebih tentang mengevaluasi atau mereviu makanan dengan jujur, apa adanya, dan benar-benar menikmati makanannya. Porsi memang besar, atau banyak, atau boleh dibilang berlebihan. Soal apakah semuanya akan dimakan atau tidak, lain urusan.

Di Indonesia, kebanyakan siaran mukbang ditampilkan dengan "makan gila-gilaan" atau "makan dalam porsi besar" atau lagi yang lebih parah: makan dengan bar-bar. Berlanjut dengan reviu akan makanan yang sudah disantap. Atas nama kejujuran, para tukang reviu ini pun mengatakan banyak hal yang berkaitan dengan makanan itu. Yang baik dan bagus diucapkan, sayangnya yang buruk juga seringnya diucapkan.

Untukku, menikmati makanan adalah tergantung selera. Tidak bisa acuan dari seseorang digunakan untuk panduan dalam menikmati sebuah hidangan. Level enak dan tidak enak itu berasal dari bagaimana seseorang bertumbuh, seperti apa lingkungan dan kebiasaannya, serta bagaimana caranya bersikap. Ketika sebuah reviu dibutuhkan, pendapat yang mengatakan sebuah hidangan tidak enak atau tidak oke diharapkan menjadi batu pijakan untuk perbaikan.

Sayangnya, pendapat tentang makanan—terutama pendapat sepihak tentang rasa, ukuran, atau tampilan makanan yang tidak cocok dengan seleranya—sering menjadi senjata mematikan. Antara menjurus pada pembuatnya secara personal, atau menjurus pada kehancuran bisnis kulinernya. Tidak satu dua kali itu terjadi. Untuk mereka yang memiliki modal (dan nyali) besar, mudah saja membuat konten tandingan atau melakukan klarifikasi dari sisi mereka. Untuk mereka yang baru mulai, atau mudah putus asa, hal-hal seperti ini akan membuat pintu masuk jurang terbuka lebih cepat.

Jujur boleh, tetapi ada baiknya pendapat personal itu disampaikan dengan lebih cantik. Balik kepada kemampuan berkomunikasi, menyusun kata, dan cara menghargai orang lain. Dan, kita bicara gen Z yang sedang bersenang-senang dengan dunia maya ini.

Yang melakukan reviu adalah anak gen Z yang mudah bicara tanpa memikirkan efek yang terjadi nanti, yang menonton juga anak gen Z yang mudah tersulut dan percaya pada apa yang dilihatnya. Bila dipikir-pikir, komentar netijen yang tajam bagai silet itu datang dari orang yang tidak ikut mencoba, tetapi percaya saja. Uh, sungguh mengerikan efek dari tayangan seperti ini.

Kasus Shely Che vs Ci Mehong, bagaikan menyaksikan perang tanpa akhir. Ci Mehong dari generasi yang berbeda, membalas dengan caranya. Sayangnya, bagi gen Z, itu adalah hal yang semakin memperburuk citranya. Namun, Ci Mehong tidak ambil peduli. Mudah saja: mereka bukan target market Ci Mehong. Dengan harga setinggi itu, Ci Mehong punya pasar sendiri yang tidak ambil pusing dengan huru hara di dunia sosial media.

Sama juga dengan lapis legit Codeblue. Tukang reviunya pun menjadi terseleksi dengan sendirinya. Siapa mau membeli lapis legit sekecil itu dengan harga sejutaan? Hanya mereka yang punya tendensi untuk ikut "terjaring" dalam dunia viral lapis legit sejutalah yang mampu melakukannya. Modal sejuta bukan apa-apa bila dibandingkan dengan hasil yang akan diterima. Selalu ada tujuan ketika sebuah konten ditampilkan dan diunggah, bukan? View, like, comments, and goes to FYP. Am I wrong?


Etika itu Harus Tetap Ada

Namun, begitulah. Etika tetaplah etika. Ketika dunia sudah tak berjarak, dalam arti sebuah pertemuan bisa dilakukan via media sosial belaka, di situlah harus diterapkan aturan. Maka, etika yang harus dijaga adalah ketika melakukan interaksi di dunia maya.

Paling sederhana, hargailah makanan. Mudah saja mengatakan "untuk kebutuhan konten", atau "atas nama kejujuran", atau "semakin heboh semakin viral". Namun, makanan itu dibuat dengan susah payah. Minimal perlakukanlah makanan itu dengan baik. Jangan berlebihan. Gunakan alat makan, perlakukan dia sebagaimana dia harus dinikmati, pelajari caranya. Ketahuilah apa makanan itu, tidak asal bicara. Bagaimana dia dibuat, apa saja bahannya, kesulitan yang ada di baliknya.  Riset bila perlu. Harus, malah. Melakukan reviu makanan atas nama pekerjaan tidak hanya sekadar membuka mulut dan mengunyah. Isi kepala dan kualitas diri juga ditampilkan tanpa sadar. Pekerjaan reviu itu, atas nama konten itu, atas nama dunia digital itu, setidaknya lakukanlah dengan rasa hormat.

Yang kedua, reviu buruk boleh saja, sejauh tidak menyinggung pribadi atau bisnis orang lain. Kata-kata buruk lebih baik tidak diucapkan, tahan saja bila tidak bisa memikirkan kata lain yang lebih baik. Gestur tubuh, raut muka, atau sikap diri mungkin akan lebih baik daripada meluncurkan puluhan kalimat yang berakhir dengan reaksi yang buruk. Aku tahu, reaksi yang viral itu yang dibutuhkan, memang. Namun, aku masih berharap bahwa keviralan itu tidak berdiri atas kehancuran orang lain, atau keputusasaan orang lain.

Dunia digital yang melaju cepat memang membawa banyak kebaikan; sekaligus banyak kegelisahan. Tayangan-tayangan meresahkan, walau itu diciptakan atas nama hiburan, semakin banyak bertebaran. Mau dibawa ke mana masa depan anak-anak tercinta kita?

Resah memang sedang datang mendera. Setidaknya, tulisan ini dibuat untuk sedikit bisa meredakannya. [WE]

#windyeffendy #revieumakanan #lapislegit #bikambon #cimehong #codeblue #bakerpatahhati

No comments