Setelah mengenal FOMO alias Fear of Missing Out, ternyata ada juga JOMO alias Joy of Missing Out. Sebuah buku karya Tanya Dalton dengan judul yang sama menarik perhatianku. Aku jadi ingin tahu lebih banyak tentang senangnya tertinggal sesuatu.
Aku menuntaskan buku ini dalam bentuk digital di Playbooks. Cukup membantu di kala kesibukan sedang memadat, membacanya di mana saja sangat memudahkan. Bisa diperbesar bila mata sedang lelah. Kekurangannya adalah jadi tidak bisa bersenang-senang membalik buku, mencoret-coret, atau memberikan anotasi. Tidak mengapalah untuk buku yang satu ini.
Cari yang Paling Penting
Pada bagian awal, Tanya Dalton menceritakan bagaimana ia merasa selalu tidak sempurna dalam mengerjakan tugas-tugasnya setiap hari—sebelumnya. Selalu saja merasa ada pekerjaan yang belum selesai, baik itu dalam tugasnya sebagai ibu rumah tangga ataupun di pekerjaannya yang lain. Overwhelming, bisa dijelaskan seperti itu. Kemudian Tanya menekankan pentingnya menemukan diri sendiri, prioritas, dan pilihan hidup dalam bab satu.
Dalam bab selanjutnya, Tanya memastikan pembaca menemukan fokusnya, memperjelas waktu yang dimiliki, dan memastikan ke mana energi harus disalurkan. Singkat cerita, bila kita fokus pada prioritas, mengatur waktu yang kita miliki, maka energi akan tersalurkan dengan tepat. Hal itu akan menuju pada satu kata: produktivitas.
Bab tiga membahas tentang keringkasan. Menurut Tanya, setiap orang harus memiliki sistem yang ringkas. Tetap membahas tentang produktivitas, yang akan melesat dengan sistem atau jadwal yang tertata. Ringkas, dalam arti efektif dan berguna, hanya fokus pada apa yang dilakukan untuk mencapai tujuan masing-masing. Mengoptimalkan dan menyederhanakan aktivitas dengan pembiasaan adalah penting. Pada akhirnya, akan terbentuk habit yang membentuk suatu sistem.
Bila kita tidak menjadwalkan tugas-tugas ini, tugas-tugas itu tidak akan pernah terjadwal. ~Bab 8, Menyederhanakan Rutinitas: Otomatisasi Mewujudkannya, hal 112—Tanya Dalton.
Setelah itu, pembahasan beralih pada harmoni. Bagian ini lebih kepada menenangkan diri, meyakinkan diri, dan berdamai dengan diri sendiri. Setelah bisa menemukan dan fokus pada prioritas, waktu, dan energi yang ada, kemudian menciptakan sistem sederhana untuk membiasakan dengan rangkaiannya, kini waktunya berdamai dengan diri. Ketika hanya fokus dengan apa yang menjadi tujuan, riuhnya dunia tidak akan mengganggu. Kita tak akan merasa resah saat orang lain riuh, tidak akan merasa tertinggal, tidak akan merasa terluka.
Pemaparan yang Berputar
Membaca buku ini mengingatkanku pada buku Being Happy karya Andrew Matthews dan Who Moved My Cheese oleh Dr. Spencer Johnson yang pernah kubaca bertahun-tahun yang lalu. Misinya sama, yaitu untuk membuat pembaca memiliki perubahan dalam kebiasaan agar menjadi lebih baik. Dalam buku ini, penting sekali untuk tahu bahwa tertinggal itu tak mengapa, tak ikut itu bukan masalah, selama kita fokus dan yakin pada diri dan maju terus dengan produktif.
Sayangnya, buku yang kubaca dalam bahasa Indonesia terasa tidak nikmat. Aku yakin buku ini lebih enak dibaca dalam bahasa Inggris. Dibandingkan dua buku yang kusebut sebelumnya, penuturan Tanya Dalton terasa berputar-putar. Contoh yang diberikan terasa bertele-tele. Pembagian babnya memang sistematis, tetapi di dalamnya aku tidak menemukan kenyamanan membaca untuk membuatku langsung merasa tahu apa isi dan kandungan dalam bab tersebut.
Yang menarik, Tanya Dalton memberikan akses ke situsnya untuk bisa mengambil tiga worksheet yang bisa digunakan langsung demi mempraktikkan apa yang sudah ditulisnya. Secara metode, apa yang dipaparkan Tanya Dalton terasa lebih ruwet dibanding yang sudah pernah kupelajari. Itulah mengapa aku mengatakan paparannya terasa berputar-putar.
Sejujurnya, aku sudah lama melalui fase "resah dengan kata orang", "takut ketinggalan", atau "harus ikut". Sehingga secara isi tidak ada yang baru untukku. Metodenya cukup menarik untuk dicoba bila langsung menggunakan worksheet dari situsnya. Namun, untuk mereka yang masih sibuk dengan kebisingan sekitarnya, perlulah membaca buku ini agar tak membuang-buang waktu dan energi untuk hal yang tak berguna.
Tidak Ikut, Tak Mengapa
Buku ini memang mengusung isu yang sangat menarik. Sejatinya, dunia masih akan terus berputar walau kita tidak ikut serta dalam kehebohan yang terjadi. Tak perlu sibuk memikirkan apa kata orang, tidak perlu resah membayangkan bagaimana orang lain memandang kita, tidak perlu gelisah mempertimbangkan apakah yang kita lakukan itu baik di mata orang lain atau dunia. Tidak perlu.
Sebagai kebalikan dari FOMO, JOMO menekankan bahwa hidup yang produktif, tenang, dan fokus pada tujuan itu akan lebih berarti daripada sibuk mendengarkan atau mengikuti lajunya dunia yang terus berjalan. Hal-hal tidak penting—yang harus dieliminasi itulah—yang membuat waktu tidak efektif. Kita menjadi terlalu sibuk dengan ini itu yang tidak berguna.
Buku ini tetap oke untuk dibaca. Luangkan waktu untuk menikmatinya perlahan, jangan terburu-buru. Contohnya pun menarik untuk disimak bila membutuhkan perspektif baru tentang hidup. Bagaimanapun, tetap tidak apa-apa untuk tidak ikut. [WE]
Judul Buku: The Joy of Missing Out
Penulis: Tanya Dalton
Penerjemah: Rini Nurul Badariyah
Penyunting: Nurjannah Intan, Eka Arief Setyawan
Penerbit: Bentang Pustaka, 2021
xxiv+264 halaman, edisi digital
Judul Asli: The Joy of Missing Out: Live More by Doing Less
#windyeffendy #resensibuku #tanyadalton #thejoyofmissingout #bukunonfiksi
No comments
Post a Comment